Parenting Coaching STP Isykariman: Pola Asuh Positif untuk Karakter Anak

Parenting coaching kembali digelar di STP Isykariman pada Sabtu, 22 Agustus 2026. Mengangkat tema pola asuh positif, kegiatan ini mengajak wali murid memahami cara mendampingi anak agar tumbuh dengan karakter, akhlak, dan kecerdasan emosional yang baik.
Catatan Kegiatan
Narasumber
Sitti Liya Akmalia, S.Psi., M.Psi., Psikolog
Moderator
Ustadzah Suhamah
Hari, tanggal
Sabtu, 22 Agustus 2026
Tempat
STP Isykariman, Cikarang
Pentingnya Peran Orang Tua dalam Pengasuhan Anak
Kegiatan parenting coaching merupakan salah satu kegiatan yang sangat penting bagi wali murid. Kegiatan ini menjadi wadah bagi orang tua untuk mendapatkan pemahaman dan wawasan mengenai bagaimana mendampingi serta mendidik anak secara tepat.
Dalam sambutannya, Kepala Sekolah Ust. Wahyu, S.S., menyampaikan bahwa parenting coaching merupakan kegiatan yang wajib diikuti oleh wali murid sebagai bagian dari upaya bersama dalam mewujudkan kebaikan dan perkembangan anak. Kegiatan ini direncanakan berlangsung dalam enam sesi yang dilaksanakan secara berkala, kurang lebih setiap dua bulan sekali, pada hari Sabtu pekan ketiga.
Tema yang diangkat berkaitan dengan bekal orang tua dalam menghadapi dan mendampingi masa depan anak. Hal ini menjadi penting karena pendidikan anak tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan keluarga.
Bahkan, di balik kesuksesan seseorang hingga menjadi ulama atau tokoh yang memiliki ilmu dan akhlak yang baik, terdapat peran besar orang tua, khususnya seorang ibu. Dari sinilah dapat dipahami bahwa keluarga memiliki posisi yang sangat penting dalam membentuk masa depan seorang anak.
Pengasuhan Anak dalam Perspektif Islam
Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi dan video interaktif yang disampaikan oleh Ustadzah Sitti Liya Akmalia, S.Psi., M.Psi., Psikolog.
Salah satu pembahasan utama adalah landasan yang membedakan arah pengasuhan anak. Dalam Islam, pola asuh positif sebenarnya telah memiliki landasan yang kuat. Islam memberikan perhatian besar terhadap bagaimana orang tua memperlakukan, mendidik, membimbing, dan memberikan teladan kepada anak.
Pola asuh dalam Islam tidak hanya berbicara mengenai bagaimana membuat anak menjadi pintar, tetapi juga bagaimana membentuk anak agar memiliki kepribadian, akhlak, dan spiritualitas yang baik.
Dengan demikian, pengasuhan tidak semata-mata berorientasi pada keberhasilan akademik. Anak juga membutuhkan pendidikan hati, pembentukan karakter, kasih sayang, keteladanan, serta lingkungan yang mendukung pertumbuhan emosional dan spiritualnya.
Pengasuhan Anak dan Kebutuhan Psikologis
Setiap anak memiliki hak untuk mendapatkan perhatian, kasih sayang, perlindungan, pendidikan, dan pendampingan dari orang tuanya. Dari sisi psikologis, anak membutuhkan rasa aman dan hubungan baik dengan orang tua.
Sementara itu, psikologi Islam memandang bahwa manusia tidak hanya memiliki kebutuhan fisik dan psikologis, tetapi juga kebutuhan spiritual. Anak membutuhkan bimbingan agar mampu mengenal Allah, memahami nilai-nilai kebaikan, serta memiliki hubungan spiritual yang baik.
Oleh karena itu, pengasuhan anak perlu memperhatikan keseimbangan antara aspek fisik, psikologis, emosional, sosial, dan spiritual.
Inner Spirituality dalam Pengasuhan
Dalam pembahasan mengenai inner spirituality atau keshalihan batin, terdapat empat hal yang perlu diperhatikan orang tua.
Tuma’ninah
Ketenangan jiwa. Orang tua perlu memiliki ketenangan dalam menghadapi berbagai dinamika anak. Ketika orang tua mudah panik, marah, atau terbawa emosi, kondisi tersebut dapat memengaruhi keadaan psikologis anak.
Tazkiyatun Nufus
Proses penyucian dan pengendalian diri. Orang tua perlu terus belajar memperbaiki diri karena pendidikan anak pada dasarnya juga merupakan proses pendidikan bagi orang tua.
Kehadiran Hati
Kehadiran orang tua bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional. Anak perlu merasakan bahwa orang tuanya benar-benar hadir, mendengarkan, dan memperhatikan dirinya.
Empati
Kemampuan memahami perasaan dan keadaan anak. Dengan empati, orang tua tidak terburu-buru menghakimi ketika anak melakukan kesalahan, tetapi berusaha memahami alasan dan perasaan yang melatarbelakanginya.
Empat Prinsip Pola Asuh Positif
Dalam pola asuh positif, terdapat empat prinsip penting yang perlu diterapkan oleh orang tua.
“Anak adalah peniru ulung. Apa yang dilakukan orang tua akan lebih mudah ditiru oleh anak daripada sekadar nasihat yang diberikan.”
Keteladanan Orang Tua
Orang tua merupakan model pertama bagi anak. Jika orang tua menginginkan anak berbicara dengan lembut, maka orang tua juga perlu membiasakan berbicara dengan lembut. Jika ingin anak disiplin, orang tua juga perlu menunjukkan kedisiplinan. Keteladanan menjadi salah satu bentuk pendidikan yang paling kuat dalam keluarga.
Memahami Perbedaan Anak
Setiap anak memiliki karakter, kebutuhan, kemampuan, dan keunikan yang berbeda. Bahkan anak yang tumbuh dalam keluarga yang sama pun belum tentu memiliki sifat dan kebutuhan yang sama. Karena itu, cara mendidik satu anak tidak selalu dapat diterapkan dengan cara yang sama kepada anak lainnya.
Kasih Sayang dan Kelembutan
Kasih sayang merupakan kebutuhan dasar dalam perkembangan anak. Anak yang mendapatkan kasih sayang dan kelembutan akan lebih mudah membangun rasa aman dan percaya terhadap orang tuanya. Rasa sayang ditunjukkan melalui perhatian, perkataan yang baik, sentuhan, apresiasi, dan waktu yang diberikan kepada anak.
Ketegasan dan Aturan yang Adil
Pola asuh positif bukan berarti membiarkan anak melakukan apa saja. Anak tetap membutuhkan aturan dan batasan yang jelas agar memahami mana yang baik dan mana yang tidak. Ketegasan harus disampaikan dengan cara yang adil, konsisten, dan tidak merendahkan anak. Ketika anak melakukan kebaikan, orang tua juga perlu memberikan apresiasi.
Manfaat Pola Asuh Positif
Penerapan pola asuh positif memberikan banyak manfaat bagi perkembangan anak maupun orang tua. Salah satunya adalah membantu menurunkan tekanan dan stres psikologis dalam hubungan antara orang tua dan anak.
Ketika anak mendapatkan pengasuhan yang positif, ia akan lebih mudah merasa aman, dihargai, dan diterima. Hal tersebut dapat membantu menumbuhkan rasa percaya diri dan keberanian pada anak.
Pola asuh positif juga membangun kepercayaan atau trust yang kuat antara orang tua dan anak. Hubungan yang dilandasi kepercayaan akan membuat anak merasa nyaman untuk bercerita dan menyampaikan apa yang sedang dirasakannya. Kepercayaan tersebut sangat penting, terutama ketika anak mulai tumbuh dan menghadapi berbagai persoalan dalam kehidupan.
Pentingnya Komunikasi Empatik
Salah satu bagian penting dalam pola asuh positif adalah komunikasi empatik. Cara orang tua berbicara kepada anak dapat memberikan pengaruh besar terhadap kondisi emosionalnya. Intonasi suara, pilihan kata, dan cara menyampaikan nasihat perlu diperhatikan. Nada suara yang terlalu tinggi atau komunikasi yang penuh kemarahan dapat membuat anak merasa takut, tertekan, atau bahkan menutup diri.
Sebaliknya, komunikasi dengan kasih sayang dan kelembutan dapat membuat anak merasa dihargai dan dipahami. Orang tua perlu belajar mendengarkan anak, memahami perasaannya, serta memberikan respons yang sesuai. Ketika anak sedang mengalami masalah emosional, jangan hanya memerintah atau memarahi. Berikan ruang bagi anak untuk mengungkapkan perasaannya.
Menjadi Orang Tua yang Terus Belajar
Pada akhirnya, menjadi orang tua adalah proses belajar yang tidak pernah selesai. Anak terus tumbuh dan berubah, sehingga pendekatan yang digunakan orang tua juga perlu berkembang.
Pengasuhan yang baik tidak hanya berusaha mengubah anak, tetapi juga mengajak orang tua untuk terus melakukan evaluasi terhadap dirinya sendiri. Orang tua perlu belajar menjaga emosi, memperbaiki komunikasi, memberikan keteladanan, membangun kepercayaan, serta menghadirkan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan keluarga.
Dengan demikian, pola asuh positif bukan sekadar metode mendidik anak, melainkan upaya membangun hubungan yang sehat antara orang tua dan anak. Anak membutuhkan orang tua yang bukan hanya hadir secara fisik, tetapi juga hadir dengan hati, kasih sayang, keteladanan, dan pemahaman. Dari keluarga yang penuh kasih dan nilai-nilai kebaikan inilah, insyaallah akan lahir generasi yang memiliki karakter kuat, kecerdasan emosional, serta spiritualitas yang baik.
Pendampingan orang tua merupakan bagian dari pembinaan di STP Isykariman. Kenali sekolah lebih jauh melalui halaman Tentang Kami, Program, dan informasi PPDB.